Pada pertemuan
kelas psikologi perempuan hari rabu minggu lalu, kami menonton film yang
berjudul “The secret of beauty: Sex signs”
(If I’m not mistaken, hehe) yang diproduksi oleh Discovery Channel. Satu hal yang merupakan inti dari film itu:
definisi cantik itu berbeda-beda. Berbeda bagi tiap orang dan tiap negara. Misalnya
saja di Jepang, perempuan berdandan seperti geisha
dengan make-up super tebal dan kimono
yang berlapis-lapis. Mengapa? Karena di Jepang cantik itu adalah ketika
perempuan menyembunyikan kecantikannya baik itu rupa maupun fisiknya. Sangat kontras
dengan India. Di India, kecantikan tidak disembunyikan malah bagian-bagian
tubuh yang dianggap menarik lebih diekspos. Misalnya saja para aktis bollywood,
mereka didandani menggunakan make-up dengan
warna yang mencolok untuk menonjolkan bagian-bagian tubuh yang menarik seperti
mata. Adapun seorang jurnalis bernama Ester Honig yang membuat serial foto “before & after” dengan menghubungi
40 orang desainer grafis (beberapa orang adalah profesional sedangkan yang lain
amatir) yang berasal lebih dari 25 negara dengan permintaan sederhana: “buat
aku menjadi cantik”. Berikut adalah contohnya:
Before & After of United Kingdom
Before & After of Indonesia
Bayangkan saja,
itu baru tiap negara apalagi tiap orang yang memiliki isi kepala yang
berbeda-beda? Pasti definisi cantik makin beragam. Misalnya seorang pencari
bakat yang berjenis kelamin perempuan menilai orang yang cantik adalah mereka
yang berjalan dengan percaya diri, memiliki senyum yang manis, dan dagu yang
memiliki belahan namun tidak menurut seorang laki-laki pejalan kaki. Menurutnya
orang yang cantik adalah mereka yang memiliki badan seperti jam pasir. Berbeda-beda,
bukan? Benar saja kalau beauty is in the
eye of the beholder yang berarti persepsi mengenai cantik itu bersifat
subyektif.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.