Selasa, 30 September 2014

Beauty is in the eye of the beholder

Pada pertemuan kelas psikologi perempuan hari rabu minggu lalu, kami menonton film yang berjudul “The secret of beauty: Sex signs” (If I’m not mistaken, hehe) yang diproduksi oleh Discovery Channel.  Satu hal yang merupakan inti dari film itu: definisi cantik itu berbeda-beda. Berbeda bagi tiap orang dan tiap negara. Misalnya saja di Jepang, perempuan berdandan seperti geisha dengan make-up super tebal dan kimono yang berlapis-lapis. Mengapa? Karena di Jepang cantik itu adalah ketika perempuan menyembunyikan kecantikannya baik itu rupa maupun fisiknya. Sangat kontras dengan India. Di India, kecantikan tidak disembunyikan malah bagian-bagian tubuh yang dianggap menarik lebih diekspos. Misalnya saja para aktis bollywood, mereka didandani menggunakan make-up dengan warna yang mencolok untuk menonjolkan bagian-bagian tubuh yang menarik seperti mata. Adapun seorang jurnalis bernama Ester Honig yang membuat serial foto “before & after” dengan menghubungi 40 orang desainer grafis (beberapa orang adalah profesional sedangkan yang lain amatir) yang berasal lebih dari 25 negara dengan permintaan sederhana: “buat aku menjadi cantik”. Berikut adalah contohnya:

Before & After of United Kingdom

Before & After of Indonesia

Bayangkan saja, itu baru tiap negara apalagi tiap orang yang memiliki isi kepala yang berbeda-beda? Pasti definisi cantik makin beragam. Misalnya seorang pencari bakat yang berjenis kelamin perempuan menilai orang yang cantik adalah mereka yang berjalan dengan percaya diri, memiliki senyum yang manis, dan dagu yang memiliki belahan namun tidak menurut seorang laki-laki pejalan kaki. Menurutnya orang yang cantik adalah mereka yang memiliki badan seperti jam pasir. Berbeda-beda, bukan? Benar saja kalau beauty is in the eye of the beholder yang berarti persepsi mengenai cantik itu bersifat subyektif. 

Rabu, 03 September 2014

Membuka wawasan akan lupus

Fakultas psikologi Untar berduka karenakan baru ditinggal oleh salah satu mahasiswi dan juga teman seangkatan saya yang bernama Christiona Dharmasetya pada tanggal 2 September 2014 jam 22.00. Dikabarkan penyebab kematiannya adalah meningitis dan lupus. Saya bertanya dalam hati “Hm... Apa sih lupus?” Sesampainya di rumah saya langsung mencari tahu seputar fakta mengenai penyakit tersebut. Satu fakta yang perlu saya garis bawahi dan saya pertebal tulisannya agar mudah dibaca: lupus tidak seperti dan tidak terkait dengan kanker! Mengapa ini saya pertegas? Karena ketika saya bertanya dengan sekumpulan junior “Apa sih lupus?” ada yang menjawab “lupus itu kanker”. Pada saat itu respon saya adalah “Oh... kanker ya...” Namun entah kenapa jawaban itu mengganjal di hati saya. Saya tidak yakin kalau lupus itu kanker. Benar saja, lupus bukan kanker.

Lupus adalah penyakit autoimun yang kronis yang dapat membahayakan tiap bagian tubuh (kulit, sendi, dan/atau organ-organ di dalam tubuh). Kronis artinya tanda-tanda dan gejalanya cenderung bertahan lebih lama dari 6 minggu dan sering sampai bertahun-tahun. Pada penyakit ini, sistem imun anda tidak beres. Sistem imun adalah bagian tubuh yang melawan virus, bakteri, dan kuman. Normalnya sistem imun kita menghasilkan protein-protein yang disebut antibodi yang melindungi tubuh dari hal-hal tadi. Nah, autoimun berarti sistem imun tidak dapat membedakan antara penyusup asing tadi dengan jaringan tubuh yang sehat dan membentuk antobodi-antibodi yang menyerang dan menghancurkan jaringan yang sehat. Antibodi-antibodi ini menyebabkan pembengkakan, sakit, dan kerusakan pada beberapa bagian tubuh. Lupus dapat sulit didiagnosa karena tanda-tanda dan gejalanya sering meniru penyakit lain. Sampai dengan saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan lupus hanya perawatan-perawatan yang dapat membantu mengontrol gejala-gejalanya. Tiap kasus lupus dapat berbeda bahkan jika penderitanya adalah orang yang sama. Tanda dan gejalanya dapat muncul mendadak atau bahkan muncul dengan perlahan, ringan atau parah, sementara atau permanen. Pada lupus, tanda dan gejalanya dapat memburuk untuk sementara kemudian membauk atau bahkan hilang untuk sementara waktu.

Beberapa fakta mengenai lupus yang perlu diketahui:

  1. Lupus tidak menular in whatsoever ways bahkan melalui kontak seksual sekalipun.
  2. Seperti yang telah saya pertegas di atas, lupus tidak seperti atau bahkan terkait dengan kanker. Pada kanker jaringan yang abnormal berkembang secara cepat dan menyebar ke sekeliling jaringan tersebut sedangkan lupus merupakan peyakit autoimun. Berbeda bukan?
  3. Lupus tidak seperti atau bahkan terkait dengan HIV/AIDS. Pada HIV/AIDS sistem imun kurang aktif sedangkan pada lupus sistem imun overactive.
  4. Seringnya lupus menyerang perempuan yang berusia 15 s.d. 44 tahun. Laki-laki, anak-anak, dan remaja juga berpotensi terserang penyakit ini.
Sumber:
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lupus/basics/definition/con-20019676
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lupus/basics/symptoms/con-20019676


Selasa, 02 September 2014

Kekhawatiran orang tua yang semakin bertambah.

Pada pertemuan kedua kelas psikologi perempuan pembahan berada di seputar perkembangan seorang perempuan mulai dari zygot s.d. dewasa. Well, pada umumnya perkembangan terjadi perubahan secara fisik. Organ-organ seks primer seperti uterus, vagina, dll. mulai berkembang. Anak perempuan yang berusia 10 s.d. 12 tahun pada masa preadolescence sudah dapat mengalami menstruasi pertama kali yang disebut menarche. Saat ini lah kekhawatiran orang tua bertambah. Mengapa? Anak gadis mereka sudah dapat mengandung! Hamil! Orang tua menjadi lebih teliti mengenai pergaulan anak perempuan mereka, seperti: siapa saja teman mereka, apa saja aktivitas sehari-harinya, kemana mereka pergi, dll. Namun yang lebih penting adalah apakah ada lawan jenis yang sedang dekat dengan anak perempuan mereka? Jika ada, siapa? Bagaimana asal-usulnya? Jika tidak diawasi dan dijaga dengan benar hal yang tidak diharapkan mungkin saja terjadi yaitu, hamil di luar nikah. Pengasuhan yang konsisten dan peraturan yang tegas dan jelas diperlukan. Tidak ada orang tua yang mau anak perempuan mereka yang baru menjajaki masa remaja hamil di luar nikah dan memiliki anak. 

Istilah-istilah yang tidak asing namun sulit dibedakan.

Ada hal yang menarik perhatian saya pada pertemuan pertama kelas psikologi perempuan yaitu beberapa istilah penting yang mungkin saja masih asing atau sulit dibedakan oleh beberapa orang. Istilah-istilah seperti: gender, sex, sexism, feminism, dan feminist.
Tidak sedikit orang yang menyalah artikan gender dan sex. Gender berbeda dengan sex namun memiliki kaitan yang erat. Gender adalah karakteristik dari maskulinitas dan feminitas sedangkan sex adalah jenis kelamin yang dapat membedakan seseorang adalah laki-laki atau perempuan secara biologis. Paham kah apa yang saya maksud dengan secara biologis? Begini, jika seseorang terlahir dengan penis maka orang tersebut adalah laki-laki namun jika terlahir dengan vagina maka orang tersebut adalah perempuan. Tapi laki-laki tidak selalu maskulin dan perempuan juga tidak selalu feminin. Ada dan bahkan tidak sedikit laki-laki yang terlihat feminin dan perempuan yang sebaliknya, terlihat maskulin. Mungkin saja hal ini dapat terjadi karena kadar hormon androgen yang berbeda pada tiap orang. Seorang laki-laki dapat terlihat kurang maskulin dan lebih feminin mungkin saja karena kadar hormon androgennya rendah dan perempuan yang terlihat maskulin memiliki kadar hormon androgen yang lebih dari normal.
Sexism atau diskriminasi gender adalah prasangka atau diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atau gender seseorang. Tidak jarang sexism terjadi, terutama pada perempuan. Contoh sederhana adalah ketika berada di belakang mobil yang berjalan dengan lambat tak jarang kita berpikir “pasti pengendaranya perempuan” dan benar, ketika kita dahului ternyata pengendaranya adalah seorang perempuan. Mengapa sexism dapat terjadi? Hal ini sering dikarenakan oleh kepercayaan dalam stereotip tradisional akan peran gender.

Feminism adalah serangkaian gerakan yang bertujuan untuk mengartikan, membangun, dan mempertahankan hak politik, ekonomi, dan sosial bagi perempuan agar setara dengan laki-laki dan feminist adalah orang yang melakukan gerakan tersebut.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 27 Mei 2014

What happened in class shouldn't stay in class.

Tidak terasa perkuliahan di semester genap sudah mau berakhir. Kelas teknik wawancara pun sudah berakhir. Tidak ada lagi perkuliahan hanya tinggal menyiapkan diri untuk UAS. Tiga minggu terakhir di kelas wawancara merupakan minggu-minggu yang menyenangkan karena diadakannya praktikum. Bagaimana kira-kira interview yang akan ditemui on daily basis sebagai psikolog dipraktekkan. Entah itu dalam bidang klinis, pendidikan, ataupun industri dan organisasi. Karena nanti akan kedapatan peran sebagai psikolog, semua mahsiswa/i diwajibkan berpakaian rapi dan sepantasnya. Kemeja, rok/celana bahan, dan sepatu. Seru melihat penampilan teman-teman yang berpakaian rapi, ya kira-kira sudah ada gambaran bagaimana tampilan mereka nanti jika kelak menjadi psikolog. Hehe... Namun tidak hanya kedapatan peran sebagai psikolog, nanti kami juga berperan sebagai klien. Kami juga akan bertindak sebagai observer yang akan mengamati role play yang terjadi di dalam ruang praktikum. Jadi akan ada 3 peran dalam praktikum, yaitu sebagai psikolog, klien, dan observer.
Setting minggu pertama praktikum adalah pendidikan. Pertama kalinya bagi saya dan bagi kebanyak teman-teman mahasiswa/i lain untuk masuk ke ruangan dengan one way mirror. Awalnya ketika saya mendapatkan peran sebagai psikolog pendidikan, rasa deg-degan dan pasti ada. Cemas apakah alat perekam yang saya gunakan berfungsi dengan baik, cemas apakah saya dapat bertanya dengan baik ketika proses interview terjadi. Interview pun dilakukan dan saya melakukan kesalahan yang sepertinya cukup fatal. Saya sudah selesai dan keluar sebelum waktu yang ditentukan. Ok, I admit, that's my bad. Tapi, terlepas dari kesalahan itu, kesan pertama saya adalah "Ini seru!" Saya dan teman-teman sekelompok yang sama-sama menjadi psikolog dan teman-teman yang menjadi klien kami keluar dengan penuh canda tawa dan ledekan satu dengan yang lain. Ketika saya menjadi observer, lebih seru dan lucu lagi. Saya menjadi pengamat terhadap teman-teman saya yang sedang berperan seolah mereka guru dan murid. Saya mengamati bagaimana yang berperan sebagai psikolog menerapkan teknik wawancara yang telah dipelajari selama perkuliahan. Mengamati bagaimana kemampuan mereka membina rapport, cara mereka berempati, attending behavior mereka, teknik bertanya, keterampilan observasi, dan kemampuan active listening mereka. Semua yang saya amati beserta apa yang telah saya lakukan ketika berperan sebagai psikolog kemudian dibuat laporannya. Dalam pembuatan laporan baru terasa "Oh... harusnya tuh tadi gue begini!" Dengan kata lain, dalam pembuatan laporan baru terlihat kekurangan dan kelebihan saya dalam menerapkan teknik wawancara. Apakah probing yang saya lakukan sudah cukup, apakah saya menerapkan the abuse of question, dan lain-lain.
Seru! Sangat menyenangkan! Namun tidak berhenti sampai di situ. Minggu berikutnya dan berikutnya lagi, saya berhadapan dengan setting industri dan organisasi, di minggu berikutnya dengan setting klinis. Kesalahan-kesalahan yang cukup fatal tidak terjadi lagi. Kecemasan semakin jauh berkurang. Perasaan menjadi lebih santai ketika praktikum jika dibandingkan dengan pertama kalinya. 
Saya bersyukur karena praktikum ini diadakan sehingga saya dan teman-teman yang lain mendapatkan gambaran bagaimana interview yang mungkin kami temukan sehari-hari jikalau kami sudah lulus kelak. Harapan lain adalah, agar apa yang sudah diajarkan oleh para dosen-dosen di kelas tidak sia-sia karena kami, mahasiswa/i, sudah paham bagaimana menerapkan kemampuan dasar dalam wawancara. What happened in class shouldn't stay in class :) 



Selasa, 11 Maret 2014

Few facts as an educational psychologist.

Sudah 2 kali pertemuan di kelas teknik wawancara beberapa kelompok mahasiswa mempresentasikan hasil wawancaranya dengan praktisi-praktisi di bidang psikologi. Terdapat 4 bidang psikologi, yaitu: Psikologi Klinis Dewasa (PKD), Psikologi Klinis Anak (PKA), Psikologi Pendidikan dan Psikologi Industri Dan Organisasi (PIO). Tiap 2 kelompok akan mengulas mengenai pengalaman praktisi dari tiap bidang psikologi. Tidak dipungkiri, yang menyebabkan sedikit kualahan adalah bagian mencari praktisi. Mengingat jadwal praktisi tersebut dan jadwal masing-masing mahasiswa dalam satu kelompok yang perlu disamakan untuk wawancara tatap muka. Praktisi yang kompeten untuk diwawancara adalah seseorang yang sudah ahli di bidangnya dengan jam terbang lebih dari 5 tahun.

Sangat menarik melihat presentasi tiap kelompok dengan praktisi yang berbeda-beda di tiap bidang terapan psikologi. Saya sebagai mahasiswa merasa sangat terbantu karena mendapat pemaparan pengalaman dari tiap praktisi tersebut. Informasi yang diberikan tiap kelompok memberikan saya sudut pandang yang baru mengenai tiap bidang terapan. Sedikit banyaknya dapat membantu saya dalam berpikir mengenai penjurusan ketika mengambil program studi magister kelak. Sangat menarik!

Saya berterima kasih kepada 2 kelompok yang telah mempresentasikan pengalaman praktisi di bidang psikologi pendidikan. Juga kepada asisten dosen kelas teknik wawancara kami, Theozipha Nathasa atau yang lebih akrab dipanggil Ci Tasha,  atas tambahan informasinya. Tadinya saya sama sekali tidak tertarik pada bidang terapan ini, namun berkat mereka saya jadi mau membuka hati untuk psikologi pendidikan. Baiklah, saya akan mencoba untuk memaparkan informasi yang saya dapat mengenai psikologi pendidikan.

Dua orang praktisi yang berhasil di wawancara oleh 2 kelompok berasal dari latar belakang yang berbeda. Praktisi pertama tidak memiliki latar belakang psikologi sama sekali. Saya lupa tepatnya apa yang merupakan latar belakang pendidikan beliau. Namun praktisi kedua memiliki latar belakang pendidikan magister psikologi. Kedua praktisi ini menjabat sebagai guru bimbingan dan konseling (BK) di tiap sekolah. Singkat cerita, setelah 2 kelompok selesai mempresentasikan hasil wawancaranya ci Tasha kemudian memberikan informasi tambahan yang menarik.

1.  Guru BK tidak merangkap sebagai wali kelas atau pengajar mata pelajaran. Mengapa? Hal ini untuk memudahkan jika sewaktu-waktu yang bersangkutan dicari oleh siswa/i atau bahkan oleh staf guru. Guru BK harus ada setiap saat ketika ada yang membutuhkan. Bayangkan ketika seorang siswa ingin “bercerita” pada sang guru BK namun ternyata yang bersangkutan sedang mengajar matematika misalnya. Akan sangat tidak efektif dan efisien. Juga untuk menjaga obyektifitas guru BK.
2.   Wait for a sec, staf guru juga ikutan mencari guru BK? Yes, betul. Ternyata jasa guru BK tidak hanya diperuntukan bagi siswa saja. Namun untuk seluruh oknum yang terlibat dalam institusi tersebut. Dalam hal ini sekolah.
3.  Tugas guru BK tidak hanya sebagai tempat konsultasi. Lantas apa lagi dong? Banyak, salah duanya adalah merencanakan kegiatan pelatihan/seminar untuk para guru dan menyortir universitas-universitas yang berkunjung kesekolah untuk promosi,
4. Perbedaan tugas dan tanggung jawab antara guru BK yang merupakan lulusan sarjana psikologi dan lulusan magister profesi psikologi. Sudah jelas beban tugas dan tanggung jawab lulusan magister profesi psikologi lebih berat. Namun tenang saja, pendapatannya sesuai kok. Sepertinya pendapatan dan beban kerja berbanding lurus. Lumayan menghasilkan.

Sekian tulisan saya mengenai bidang Psikologi Pendidikan. Semoga sedikit banyaknya dapat memberikan perspektif baru juga bagi yang membaca.


Terima kasih. 

Minggu, 09 Maret 2014

Some facts about sex appeal

Senin, 3 April 2014. Jadwal untuk kelas perilaku seksual adalah menonton sebuah film. Saya tidak tahu apa yang akan ditonton tapi film itu pasti ada hubungannya dengan perilaku seksual. Ternyata kami menonton film yang berjudul Science of Sex Appeal. “Hm... menarik sekali!” saya bergumam dalam hati. Kenapa saya anggap menarik? Karena saya tidak tahu banyak mengenai hal ini. Saya sangat butuh informasi mengenai sex appeal. Mungkin dengan mengetahuinya dapat menjawab teka-teki kenapa selama ini saya masih berstatus single. Hahaha.

Sex appeal? Apa itu sex appeal? It simply means as daya tarik seksual. Apa yang dapat menyebabkan lawan jenis tertarik pada kita?

Fisik.

Saya yakin kalian setidaknya pernah mendengar kalimat “dari mata turun ke hati.” Memang pasti lebih menyenangkan ketika melihat lawan jenis yang ganteng/cantik. Surprisingly not that simple, my friend. Bukan hanya sekedar paras yang enak dilihat saja. Ternyata ada banyak hal di balik keelokan fisik seseorang. Misalnya saja, kesimetrisan wajah juga menentukan apakah seseorang dapat dikatakan menarik atau tidak.
Seorang peneliti di film ini menempel dua foto orang yang sama namun yang satu lebih dibuat simetris dari yang lain. Peneliti ini berkata bahwa yang terdapat di foto tersebut adalah dua orang yang merupakan kembar identik. Mahasiswa yang menjadi responden penelitian kemudian diminta untuk menilai mana yang lebih menarik. Mengejutkan, banyak yang lebih memilih foto orang dengan wajah yang simetris.

Suara.

Hal mengejutkan lain yang berkontribusi terhadap daya tarik seksual adalah suara. Ternyata laki-laki mendapatkan perempuan dengan suara yang nyaring lebih menarik dibandingkan perempuan dengan suara rendah. Sebaliknya, perempuan mendapatkan laki-laki dengan suara yang rendah lebih menarik daripada laki-laki dengan suara yang nyaring.

Feromon.

Feromon merupakan zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin yang membedakan tiap individu. Sederhananya, feromon  adalah bau badan. Tiap orang memiliki bau yang berbeda dan khas. Seorang perempuan mungkin saja dapat tertarik pada laki-laki dengan bau A dibandingkan laki-laki dengan bau B.
Feromon juga dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak dapat tertarik dengan orang lain jika orang tersebut masih sedarah. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di film ini, beberapa perempuan diminta untuk membaui kaos beberapa laki-laki yang dimasukkan ke dalam botol kaca. Ada responden laki-laki yang masih terkait dengan salah satu responden perempuan. Saya lupa apakah responden laki-laki itu abang atau ayah dari responden perempuan. Namun ketika responden perempuan tersebut membaui kaos responden laki-laki itu, responden perempuan kemudian mengisi di kuisioner bahwa dia tidak tertarik dengan laki-laki yang mengenakan kaos tersebut.

Well, these are a little bit of some interesting facts about sex appeal that I know after watching Science of Sex Appeal. Thanks for reading! 


Rabu, 12 Februari 2014

Single or In relationship? Take your pick!

Ada kalimat “love when you’re ready, not when you’re lonely”. Relationships are never easy, they said. Tidak semudah “ok, i like you and i think i’m in love with you. How about we make this official?” Relationships take effort. In a relationship, you should fight through whatever comes your way. You should be willing to do whatever it takes to keep them in your life. Menurut saya, kita perlu yakin dulu akan perasaan kita terhadap orang itu. Kalau masih ragu-ragu dengan orang tersebut, lebih baik nanti dulu. Better to be with no one than the wrong one. Betul tidak? Ada kalimat “stay single until someone actually compliments your life in a way that it makes it better to not be single. If not, it’s not worth it.” Good love will find you someday. Til then, live well, happy, and free.