Sudah
2 kali pertemuan di kelas teknik wawancara beberapa kelompok mahasiswa
mempresentasikan hasil wawancaranya dengan praktisi-praktisi di bidang
psikologi. Terdapat 4 bidang psikologi, yaitu: Psikologi Klinis Dewasa (PKD), Psikologi
Klinis Anak (PKA), Psikologi Pendidikan dan Psikologi Industri Dan Organisasi (PIO).
Tiap 2 kelompok akan mengulas mengenai pengalaman praktisi dari tiap bidang
psikologi. Tidak dipungkiri, yang menyebabkan sedikit kualahan adalah bagian
mencari praktisi. Mengingat jadwal praktisi tersebut dan jadwal masing-masing
mahasiswa dalam satu kelompok yang perlu disamakan untuk wawancara tatap muka. Praktisi
yang kompeten untuk diwawancara adalah seseorang yang sudah ahli di bidangnya
dengan jam terbang lebih dari 5 tahun.
Sangat
menarik melihat presentasi tiap kelompok dengan praktisi yang berbeda-beda di tiap
bidang terapan psikologi. Saya sebagai mahasiswa merasa sangat terbantu karena
mendapat pemaparan pengalaman dari tiap praktisi tersebut. Informasi yang
diberikan tiap kelompok memberikan saya sudut pandang yang baru mengenai tiap
bidang terapan. Sedikit banyaknya dapat membantu saya dalam berpikir mengenai
penjurusan ketika mengambil program studi magister kelak. Sangat menarik!
Saya
berterima kasih kepada 2 kelompok yang telah mempresentasikan pengalaman
praktisi di bidang psikologi pendidikan. Juga kepada asisten dosen kelas teknik
wawancara kami, Theozipha Nathasa
atau yang lebih akrab dipanggil Ci Tasha, atas tambahan informasinya. Tadinya saya sama
sekali tidak tertarik pada bidang terapan ini, namun berkat mereka saya jadi mau
membuka hati untuk psikologi pendidikan. Baiklah, saya akan mencoba untuk
memaparkan informasi yang saya dapat mengenai psikologi pendidikan.
Dua
orang praktisi yang berhasil di wawancara oleh 2 kelompok berasal dari latar
belakang yang berbeda. Praktisi pertama tidak memiliki latar belakang psikologi
sama sekali. Saya lupa tepatnya apa yang merupakan latar belakang pendidikan
beliau. Namun praktisi kedua memiliki latar belakang pendidikan magister
psikologi. Kedua praktisi ini menjabat sebagai guru bimbingan dan konseling (BK)
di tiap sekolah. Singkat cerita, setelah 2 kelompok selesai mempresentasikan
hasil wawancaranya ci Tasha kemudian memberikan informasi tambahan yang
menarik.
1. Guru
BK tidak merangkap sebagai wali kelas atau pengajar mata pelajaran. Mengapa? Hal
ini untuk memudahkan jika sewaktu-waktu yang bersangkutan dicari oleh siswa/i
atau bahkan oleh staf guru. Guru BK harus ada setiap saat ketika ada yang
membutuhkan. Bayangkan ketika seorang siswa ingin “bercerita” pada sang guru BK
namun ternyata yang bersangkutan sedang mengajar matematika misalnya. Akan sangat
tidak efektif dan efisien. Juga untuk menjaga obyektifitas guru BK.
2. Wait
for a sec, staf guru juga ikutan mencari guru BK? Yes, betul. Ternyata jasa
guru BK tidak hanya diperuntukan bagi siswa saja. Namun untuk seluruh oknum
yang terlibat dalam institusi tersebut. Dalam hal ini sekolah.
3. Tugas
guru BK tidak hanya sebagai tempat konsultasi. Lantas apa lagi dong? Banyak, salah
duanya adalah merencanakan kegiatan pelatihan/seminar untuk para guru dan menyortir
universitas-universitas yang berkunjung kesekolah untuk promosi,
4. Perbedaan
tugas dan tanggung jawab antara guru BK yang merupakan lulusan sarjana psikologi dan lulusan magister profesi psikologi.
Sudah jelas beban tugas dan tanggung jawab lulusan magister profesi psikologi
lebih berat. Namun tenang saja, pendapatannya sesuai kok. Sepertinya pendapatan
dan beban kerja berbanding lurus. Lumayan menghasilkan.
Sekian
tulisan saya mengenai bidang Psikologi Pendidikan. Semoga sedikit banyaknya dapat
memberikan perspektif baru juga bagi yang membaca.
Terima
kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.