Selasa, 11 Maret 2014

Few facts as an educational psychologist.

Sudah 2 kali pertemuan di kelas teknik wawancara beberapa kelompok mahasiswa mempresentasikan hasil wawancaranya dengan praktisi-praktisi di bidang psikologi. Terdapat 4 bidang psikologi, yaitu: Psikologi Klinis Dewasa (PKD), Psikologi Klinis Anak (PKA), Psikologi Pendidikan dan Psikologi Industri Dan Organisasi (PIO). Tiap 2 kelompok akan mengulas mengenai pengalaman praktisi dari tiap bidang psikologi. Tidak dipungkiri, yang menyebabkan sedikit kualahan adalah bagian mencari praktisi. Mengingat jadwal praktisi tersebut dan jadwal masing-masing mahasiswa dalam satu kelompok yang perlu disamakan untuk wawancara tatap muka. Praktisi yang kompeten untuk diwawancara adalah seseorang yang sudah ahli di bidangnya dengan jam terbang lebih dari 5 tahun.

Sangat menarik melihat presentasi tiap kelompok dengan praktisi yang berbeda-beda di tiap bidang terapan psikologi. Saya sebagai mahasiswa merasa sangat terbantu karena mendapat pemaparan pengalaman dari tiap praktisi tersebut. Informasi yang diberikan tiap kelompok memberikan saya sudut pandang yang baru mengenai tiap bidang terapan. Sedikit banyaknya dapat membantu saya dalam berpikir mengenai penjurusan ketika mengambil program studi magister kelak. Sangat menarik!

Saya berterima kasih kepada 2 kelompok yang telah mempresentasikan pengalaman praktisi di bidang psikologi pendidikan. Juga kepada asisten dosen kelas teknik wawancara kami, Theozipha Nathasa atau yang lebih akrab dipanggil Ci Tasha,  atas tambahan informasinya. Tadinya saya sama sekali tidak tertarik pada bidang terapan ini, namun berkat mereka saya jadi mau membuka hati untuk psikologi pendidikan. Baiklah, saya akan mencoba untuk memaparkan informasi yang saya dapat mengenai psikologi pendidikan.

Dua orang praktisi yang berhasil di wawancara oleh 2 kelompok berasal dari latar belakang yang berbeda. Praktisi pertama tidak memiliki latar belakang psikologi sama sekali. Saya lupa tepatnya apa yang merupakan latar belakang pendidikan beliau. Namun praktisi kedua memiliki latar belakang pendidikan magister psikologi. Kedua praktisi ini menjabat sebagai guru bimbingan dan konseling (BK) di tiap sekolah. Singkat cerita, setelah 2 kelompok selesai mempresentasikan hasil wawancaranya ci Tasha kemudian memberikan informasi tambahan yang menarik.

1.  Guru BK tidak merangkap sebagai wali kelas atau pengajar mata pelajaran. Mengapa? Hal ini untuk memudahkan jika sewaktu-waktu yang bersangkutan dicari oleh siswa/i atau bahkan oleh staf guru. Guru BK harus ada setiap saat ketika ada yang membutuhkan. Bayangkan ketika seorang siswa ingin “bercerita” pada sang guru BK namun ternyata yang bersangkutan sedang mengajar matematika misalnya. Akan sangat tidak efektif dan efisien. Juga untuk menjaga obyektifitas guru BK.
2.   Wait for a sec, staf guru juga ikutan mencari guru BK? Yes, betul. Ternyata jasa guru BK tidak hanya diperuntukan bagi siswa saja. Namun untuk seluruh oknum yang terlibat dalam institusi tersebut. Dalam hal ini sekolah.
3.  Tugas guru BK tidak hanya sebagai tempat konsultasi. Lantas apa lagi dong? Banyak, salah duanya adalah merencanakan kegiatan pelatihan/seminar untuk para guru dan menyortir universitas-universitas yang berkunjung kesekolah untuk promosi,
4. Perbedaan tugas dan tanggung jawab antara guru BK yang merupakan lulusan sarjana psikologi dan lulusan magister profesi psikologi. Sudah jelas beban tugas dan tanggung jawab lulusan magister profesi psikologi lebih berat. Namun tenang saja, pendapatannya sesuai kok. Sepertinya pendapatan dan beban kerja berbanding lurus. Lumayan menghasilkan.

Sekian tulisan saya mengenai bidang Psikologi Pendidikan. Semoga sedikit banyaknya dapat memberikan perspektif baru juga bagi yang membaca.


Terima kasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.