Senin, 3 April 2014. Jadwal untuk
kelas perilaku seksual adalah menonton sebuah film. Saya tidak tahu apa yang
akan ditonton tapi film itu pasti ada hubungannya dengan perilaku seksual. Ternyata
kami menonton film yang berjudul Science
of Sex Appeal. “Hm... menarik sekali!” saya bergumam dalam hati. Kenapa saya
anggap menarik? Karena saya tidak tahu banyak mengenai hal ini. Saya sangat
butuh informasi mengenai sex appeal. Mungkin
dengan mengetahuinya dapat menjawab teka-teki kenapa selama ini saya masih
berstatus single. Hahaha.
Sex appeal? Apa itu sex
appeal? It simply means as daya tarik seksual. Apa yang dapat menyebabkan
lawan jenis tertarik pada kita?
Fisik.
Saya yakin kalian setidaknya
pernah mendengar kalimat “dari mata turun ke hati.” Memang pasti lebih
menyenangkan ketika melihat lawan jenis yang ganteng/cantik. Surprisingly not
that simple, my friend. Bukan hanya sekedar paras yang enak dilihat saja. Ternyata
ada banyak hal di balik keelokan fisik seseorang. Misalnya saja, kesimetrisan
wajah juga menentukan apakah seseorang dapat dikatakan menarik atau tidak.
Seorang peneliti di film ini
menempel dua foto orang yang sama namun yang satu lebih dibuat simetris dari
yang lain. Peneliti ini berkata bahwa yang terdapat di foto tersebut adalah dua
orang yang merupakan kembar identik. Mahasiswa yang menjadi responden
penelitian kemudian diminta untuk menilai mana yang lebih menarik. Mengejutkan,
banyak yang lebih memilih foto orang dengan wajah yang simetris.
Suara.
Hal mengejutkan lain yang
berkontribusi terhadap daya tarik seksual adalah suara. Ternyata laki-laki
mendapatkan perempuan dengan suara yang nyaring lebih menarik dibandingkan
perempuan dengan suara rendah. Sebaliknya, perempuan mendapatkan laki-laki
dengan suara yang rendah lebih menarik daripada laki-laki dengan suara yang
nyaring.
Feromon.
Feromon merupakan zat kimia yang
berasal dari kelenjar endokrin yang membedakan tiap individu. Sederhananya,
feromon adalah bau badan. Tiap orang
memiliki bau yang berbeda dan khas. Seorang perempuan mungkin saja dapat
tertarik pada laki-laki dengan bau A dibandingkan laki-laki dengan bau B.
Feromon juga dapat menjelaskan
mengapa seseorang tidak dapat tertarik dengan orang lain jika orang tersebut
masih sedarah. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di film ini, beberapa
perempuan diminta untuk membaui kaos beberapa laki-laki yang dimasukkan ke
dalam botol kaca. Ada responden laki-laki yang masih terkait dengan salah satu
responden perempuan. Saya lupa apakah responden laki-laki itu abang atau ayah
dari responden perempuan. Namun ketika responden perempuan tersebut membaui
kaos responden laki-laki itu, responden perempuan kemudian mengisi di kuisioner
bahwa dia tidak tertarik dengan laki-laki yang mengenakan kaos tersebut.
Well, these are a little bit of some
interesting facts about sex appeal that
I know after watching Science of Sex
Appeal. Thanks for reading!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.